Jadi ‘Pesaing Berat’ atau ‘Satu dari Ribuan’?: Poin Penting Melamar Kerja
Pernahkah kamu merasa seperti sedang berlomba lari maraton, tapi garis finish-nya entah di mana? Nah, begitulah rasanya mencari kerja sekarang. Ribuan lamaran dikirim, tapi balasan yang datang sungguhlah sedikit. Kalau kamu adalah salah satu pejuang yang sudah merasa mengirim ratusan, bahkan mungkin mendekati seribu lamaran, tapi kok belum ada ‘kabar baik’ yang datang, kamu tidak sendirian. Banyak kok yang merasakan hal serupa. Tapi, sebelum kita mulai merasa putus asa dan menyalahkan takdir, coba deh kita renungkan sebentar.
Jujur saja, angka ‘1.000 lamaran’ itu bukan angka sakti yang kalau tercapai pasti langsung dapat pekerjaan impian. Itu hanyalah sebuah analogi, sebuah cara untuk menggambarkan betapa gigihnya seseorang dalam mencari. Kadang, saya berpikir, apa iya semua lamaran yang kita kirim itu benar-benar ‘mengena’? Atau hanya sekadar ‘tembakan’ ke segala arah, berharap ada satu yang nyangkut?
Lamaran yang ‘Nendang’ vs. Lamaran yang ‘Biasa Saja’
Ini dia, inti masalahnya. Mengirim lamaran itu bukan sekadar copy-paste CV lalu klik kirim. Saya pernah punya teman, sebut saja namanya Budi. Dulu, dia itu paling malas kalau urusan surat lamaran. Pokoknya, CV-nya sama semua, surat pengantarnya pun generik. Hasilnya? Ya, memang sedikit sekali panggilan yang datang. Sampai akhirnya, dia dapat teguran keras dari salah satu senior yang bilang, “Lamaranmu itu kayak ngasih amplop kosong, nggak ada isinya spesifik.” Wah, langsung kena mental Budi!
Nah, dari pengalaman Budi, kita bisa belajar. Setiap lamaran yang kita kirim sebaiknya sudah ‘disesuaikan’. Maksudnya? Kenali dulu perusahaan dan posisi yang dituju. Riset sedikit. Apa sih yang mereka cari? Apa skill yang paling dibutuhkan? Lalu, tunjukkan di CV dan surat lamaranmu, kalau kamu itu ‘solusi’ dari kebutuhan mereka. Bukan sekadar ‘pelamar’ yang antre.
Contoh Kecil yang Berdampak Besar
Bayangkan ada dua pelamar untuk posisi desainer grafis. Keduanya punya kemampuan dasar yang mirip. Pelamar A hanya melampirkan CV standar dan portofolio umum. Pelamar B, selain itu, juga menyertakan satu contoh desain visualisasi produk perusahaan yang dilamarnya, dengan sedikit modifikasi yang menunjukkan pemahaman ide bisnis mereka. Siapa yang menurutmu akan lebih dilirik? Tentu saja Pelamar B, kan? Dia menunjukkan inisiatif dan pemahaman yang lebih dalam.
Ini bukan soal harus jadi ‘Sinterklas’ yang bisa melakukan segalanya. Tapi, soal menunjukkan bahwa kita serius dan punya nilai tambah. Kalau kamu merasa sudah mengirim seribu lamaran tapi tanpa penyesuaian seperti ini, ya mungkin ‘tembakan’mu memang terlalu banyak yang meleset.
Mungkin Bukan ‘Nggak Ada Kesempatan’, tapi ‘Belum Tepat’?
Selain soal penyesuaian lamaran, ada faktor lain yang kadang luput dari perhatian. Kadang, kita terlalu fokus pada satu jenis pekerjaan atau satu industri saja. Padahal, skill yang kita punya bisa jadi relevan untuk banyak hal. Saya sendiri pernah mengalami fase bingung mau kerja di mana setelah lulus kuliah. Awalnya ngotot mau di bidang A. Tapi setelah mencoba melamar ke beberapa perusahaan di bidang B yang sedikit berbeda, ternyata ada kecocokan yang tidak terduga. Justru di sana saya merasa lebih berkembang.
Jadi, coba buka pikiran. Apakah mungkin ada posisi atau industri lain yang belum kamu eksplorasi? Apakah skill kamu bisa ‘dijual’ di tempat lain? Terkadang, kesempatan yang datang itu bukan persis seperti yang kita bayangkan, tapi justru bisa jadi ‘pintu’ menuju sesuatu yang lebih baik.
Bukan ‘Menyerah’ tapi ‘Strategi Baru’
Intinya, kalau kamu merasa sudah berjuang keras tapi belum juga menemukan ‘rumah’ baru, jangan buru-buru bilang nasib buruk. Coba evaluasi lagi prosesnya. Apakah lamaranmu sudah ‘berbicara’ untukmu? Apakah kamu sudah melihat peluang di luar ‘zona nyamanmu’? Mungkin, ‘1.000 lamaran’ itu bukan angka untuk berhenti, tapi justru menjadi penanda bahwa kamu perlu mengganti ‘senjata’ atau strategi perangmu. Bukankah lebih baik mencoba pendekatan baru daripada terus melakukan hal yang sama dan berharap hasil yang berbeda?
Jadi, bagaimana menurutmu? Apa saja strategi yang sudah kamu coba dalam perburuan kerja ini? Yuk, berbagi pengalaman di kolom komentar!
Baca juga:







