Pernah Ngerasa Gitu Juga? Pasrah Cari Loker, Asal Dapat Gaji
Jujur saja, seringkali kita melamar kerja itu karena butuh. Entah itu terdesak kebutuhan finansial, atau sekadar ingin pindah dari lingkungan yang bikin jenuh. Kadang, saking butuhnya, kita jadi sedikit ‘pragmatis’. Asal ada lowongan, asal gajinya lumayan, langsung gas pol kirim lamaran. Tanpa banyak mikir apakah pekerjaan itu benar-benar sesuai dengan apa yang kita inginkan, passion kita, atau bahkan nilai-nilai yang kita pegang.
Saya sendiri pernah ada di fase itu. Dulu, ketika baru lulus, saya tak punya banyak pilihan. Saya ingat betul, pernah melamar ke sebuah perusahaan hanya karena teman bilang ada lowongan. Saya hanya melihat satu hal: ada pendapatan bulanan yang pasti. Jadilah saya menjalani peran yang sebenarnya tidak begitu saya nikmati selama beberapa waktu. Memang sih, dapat gaji. Tapi energi terkuras habis, pulang kerja rasanya lemas tak bertenaga. Ibarat kata, saya cuma ‘bertahan hidup’, bukan ‘menikmati hidup’ lewat pekerjaan saya.
Lebih dari Sekadar Gaji: Mencari ‘Panggilan’ dalam Karier
Nah, pengalaman itu membuat saya berpikir ulang. Apakah memang begini cara kerja seharusnya? Apakah kita harus mengorbankan kebahagiaan demi lembaran rupiah? Ternyata tidak. Mencari kerja itu bukan cuma soal menukar waktu dan tenaga dengan uang. Lebih dari itu, ini adalah tentang menemukan sesuatu yang membuat kita merasa berarti, merasa berkontribusi, dan bahkan tumbuh.
Kalau ditanya pendapat saya, mencari kerja itu seharusnya seperti mencari jodoh. Harus ada kecocokan, ada rasa nyaman, ada tujuan yang sama. Terlalu banyak orang yang terjebak dalam ‘pernikahan’ karier yang tidak bahagia hanya karena ‘terburu-buru’ atau tidak tahu cara mencari yang tepat. Padahal, di luar sana, banyak sekali kesempatan yang mungkin lebih pas untuk kita. Kuncinya adalah bagaimana kita melihat proses pencarian kerja itu sendiri.
Mengubah Pola Pikir: Dari ‘Dikejar’ Jadi ‘Mengejar’ dengan Strategi
Daripada terus-terusan merasa ‘mengejar’ lowongan yang entah ada atau tidak, kenapa tidak kita balik? Jadikan diri kita yang ‘dikejar’ oleh perusahaan yang tepat. Kedengarannya mungkin agak mustahil, tapi ini soal bagaimana kita memposisikan diri. Bukan berarti sombong, tapi lebih kepada bagaimana kita membangun nilai diri kita sehingga kita punya daya tawar yang lebih baik.
Bagaimana caranya? Pertama, kenali diri sendiri. Apa sih yang benar-benar kamu suka? Apa kelebihanmu yang paling menonjol? Kalau kamu suka menulis, tapi melamar jadi akuntan, ya pasti berat. Fokus pada kekuatanmu. Kedua, riset mendalam. Jangan hanya melihat nama perusahaan. Cari tahu budaya kerjanya, proyek-proyek yang sedang berjalan, bahkan berita terbaru tentang mereka. Apakah sejalan dengan nilai-nilaimu? Apakah kamu akan merasa bangga menjadi bagian dari itu?
Bukan Cuma HRD yang ‘Interview’, Kamu Juga!
Di sinilah poin pentingnya. Seringkali kita lupa bahwa proses rekrutmen itu dua arah. Perusahaan ‘menginterview’ kita, tapi kita pun ‘menginterview’ perusahaan. Saat sesi wawancara, selain menjawab pertanyaan, jangan ragu untuk bertanya. Tanyakan hal-hal yang memang penting bagimu. Misalnya, tentang peluang pengembangan diri, bagaimana tim bekerja sama, atau bahkan bagaimana perusahaan mengatasi tantangan tertentu. Ini bukan cuma soal mencari informasi, tapi juga menunjukkan bahwa kamu serius, kritis, dan peduli dengan masa depanmu di perusahaan tersebut.
Saya pernah dapat tawaran kerja, tapi saat wawancara, saya bertanya soal fleksibilitas jam kerja karena saya punya kegiatan lain di sore hari. Ternyata, perusahaan itu sangat kaku. Akhirnya, saya putuskan untuk menolak. Keputusan yang mungkin terlihat ‘aneh’ bagi sebagian orang yang hanya fokus pada gaji, tapi bagi saya, itu adalah langkah yang tepat untuk menjaga keseimbangan hidup. Kebetulan, beberapa bulan kemudian saya dapat tawaran lain yang jauh lebih sesuai, dengan budaya kerja yang lebih terbuka.
Membangun Jaringan: Bukan Cuma ‘Kenalan’, Tapi Koneksi Bermakna
Terakhir, jangan remehkan kekuatan jejaring. Tapi bukan sekadar ‘punya banyak kontak’. Bangunlah koneksi yang bermakna. Ikuti forum profesional di bidangmu, hadiri seminar atau webinar, atau bahkan aktif di komunitas online. Berbagi ilmu, bertukar pikiran. Terkadang, lowongan kerja terbaik itu datang dari rekomendasi orang yang percaya pada kemampuanmu, bukan dari iklan lowongan yang dipublikasikan secara umum. Menurut saya, ini adalah salah satu cara paling efektif dan jujur dalam mencari pekerjaan yang tepat sasaran.
Jadi, kalau kamu sedang dalam proses mencari kerja, coba ubah sedikit caramu. Jangan hanya fokus pada ‘mendapat kerja’, tapi fokus pada ‘menemukan kerja yang tepat’. Luangkan waktu untuk refleksi diri, riset perusahaan, dan bangun koneksi yang tulus. Siapa tahu, pekerjaan impianmu ternyata lebih dekat dari yang kamu bayangkan. Bagaimana menurutmu? Apa pengalamanmu dalam mencari kerja yang paling berkesan?
Baca juga:






