Belasan Ribu Orang, Satu Impian: Genggam Pekerjaan
Bayangkan saja, lebih dari 130 ribu orang rela antre demi satu kesempatan bekerja di program padat karya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Angka ini bukan main-main. Jujur saja, mendengar kabar ini, saya langsung berpikir, wah, berarti memang banyak sekali saudara-saudara kita yang sedang berjuang mencari nafkah ya.
Pekerjaan di sektor kebersihan, yang dibuka Pemprov DKI, ternyata begitu diminati. Lebih dari 132 ribu lamaran masuk. Ini jadi cerminan betapa tingginya tingkat persaingan dunia kerja kita, terutama di kota besar seperti Jakarta. Kebetulan beberapa waktu lalu saya sempat berbincang dengan seorang teman yang baru saja lulus. Dia cerita, mengirim lamaran saja sudah seperti lotre, belum lagi kalau harus berhadapan dengan persaingan ribuan orang. Nah, bayangkan saja kalau dia harus bersaing dengan lebih dari 132 ribu orang untuk satu jenis pekerjaan. Pening!
Janji Manis: ‘Tak Ada Orang Dalam’, Tapi…
Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi DKI Jakarta, Bapak Pengganti Bapak sebelumnya menyebutkan, program ini menjamin tidak ada praktik ‘orang dalam’. Semua proses seleksi transparan dan akuntabel. Pernyataan ini tentu melegakan. Mengingat betapa seringnya kita mendengar keluhan tentang nepotisme atau koneksi yang lebih diutamakan daripada kompetensi. Tapi, apakah benar-benar semudah itu?
Saya sih berharap begitu. Tapi pengalaman hidup mengajarkan saya untuk melihat segala sesuatu dengan kacamata yang lebih luas. Bukan berarti tidak percaya, ya. Tapi, meminimalisir risiko dan memastikan semuanya berjalan sesuai harapan memang perlu. Bayangkan begini, kalau ada satu saja celah yang bisa disusupi, pasti akan ada saja yang mencoba. Bagaimanapun, kesempatan mendapatkan pekerjaan, apalagi yang relatif mudah diakses seperti ini (meski persaingannya gila-gilaan), pasti banyak yang mengincar.
Kriteria Pendukung: Siapa yang Sebenarnya Dibutuhkan?
Program padat karya ini kan memang dirancang untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan cepat. Biasanya, kriterianya tidak serumit mencari pegawai di sektor swasta yang membutuhkan keahlian spesifik. Fokusnya lebih pada ketersediaan waktu dan fisik. Tapi, di tengah serbuan 132.627 pelamar itu, apakah ada filter tambahan? Misalnya, prioritas diberikan pada warga DKI yang belum memiliki pekerjaan tetap? Atau ada pertimbangan lain?
Kalau yang diterima hanya segelintir orang dari jumlah pelamar yang membludak itu, apa nasib sisanya? Akan kembali berjuang di rimba pencarian kerja yang semakin sempit? Ini yang seringkali luput dari perhatian. Program padat karya itu seperti obat sementara. Bagus untuk mengatasi gejala, tapi bagaimana dengan akar masalahnya? Ketersediaan lapangan kerja yang benar-benar permanen dan layak tentu membutuhkan solusi yang lebih strategis.
Setiap lamaran yang masuk itu mewakili satu cerita, satu harapan keluarga. Bukan sekadar angka statistic.
Pandangan Kritis: Antrean Panjang Bukan Sekadar Angka
Di balik angka 132.627 itu, ada lebih dari seratus ribu cerita. Cerita tentang seorang ibu yang harus menopang ekonomi keluarga, seorang bapak yang kehilangan pekerjaan akibat PHK, atau anak muda yang baru lulus tapi belum juga mendapatkan pekerjaan impian. Mereka semua berharap mendapatkan kesempatan yang sama. Janji tanpa ‘orang dalam’ itu perlu dibuktikan dengan proses yang benar-benar terbuka dan bisa diaudit oleh publik.
Saya sendiri pernah punya pengalaman iseng ikut semacam seleksi terbuka untuk posisi relawan di sebuah acara. Prosesnya lumayan ketat. Ada wawancara, tes tertulis, sampai akhirnya dipilih hanya beberapa orang. Di situ saya belajar, betapa pentingnya transparansi. Ketika kita tahu prosesnya berjalan adil, hati jadi lebih tenang, apapun hasilnya.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda punya pengalaman serupa dalam mencari pekerjaan atau justru pernah terlibat dalam proses rekrutmen? Mari kita diskusi lebih lanjut di kolom komentar.
Baca juga:





