Demi Selembar Surat Pengantar
Pernah merasakan deg-degan saat mengirimkan lamaran kerja? Saya pasti pernah. Apalagi kalau yang dilamar itu posisi idaman, apalagi kalau saingannya lumayan banyak. Kebetulan saya dulu pernah mencoba peruntungan melamar pekerjaan di sebuah instansi pemerintah. Wah, formulirnya saja butuh waktu seharian buat diisi lengkap, belum lagi dokumen-dokumennya. Nah, ini kabar dari Jakarta, ada 132.627 orang yang berebut posisi di program padat karya Pemprov DKI. Angkanya bikin merinding ya? Tapi, pejabatnya sudah menjamin, semua proses seleksi berjalan bersih, tanpa orang dalam. Ini kabar baik buat kita semua yang sedang berjuang mencari pekerjaan!
Saatnya Berbenah Diri, Bukan Sekadar Kirim Lamaran
Kalau melihat jumlah pelamar sebanyak itu, jelas seleksinya tidak akan main-main. Bukan sekadar mencocokkan nama dengan lowongan, tapi pasti ada kriteria ketat yang dicari. Jujur saja, di tengah gempuran ribuan lamaran, bagaimana caranya agar lamaran kita tidak tenggelam begitu saja? Kuncinya, kita harus tampil beda. Bukan karena punya kenalan, tapi karena memang punya nilai lebih.
Mungkin Anda bertanya, apa sih yang bisa kita lakukan? Nggak perlu risau. Ada beberapa hal yang bisa langsung diterapkan, meskipun terlihat sederhana. Pertama, pahami betul kualifikasi yang diminta. Jangan asal kirim lamaran hanya karena terlihat menarik. Baca detailnya, cocokkan dengan kemampuan dan pengalaman Anda. Kalaupun ada syarat yang belum terpenuhi 100%, tapi Anda punya potensi besar di area lain, itu bisa jadi nilai tambah. Jelaskan di surat lamaran atau portofolio Anda mengapa Anda tetap layak dipertimbangkan.
Jurus Lamaran yang Dilirik, Bukan Sekadar Tumpukan Kertas
Kedua, buat surat lamaran dan CV Anda ‘berbicara’. Ini bukan soal panjangnya tulisan, tapi seberapa relevan dan menarik isinya. Daripada hanya mencantumkan daftar tugas di pekerjaan sebelumnya, cobalah berikan contoh nyata pencapaian Anda. Misalnya, jika melamar sebagai admin, jangan hanya tulis ‘mengelola data’, tapi bisa ditulis ‘berhasil mengorganisir database yang meningkatkan efisiensi pencarian data hingga 20%’. Gunakan angka dan fakta sebisa mungkin. Di sinilah kreativitas Anda diuji. Mungkin Anda bisa memasukkan sedikit cerita atau studi kasus singkat yang relevan dalam surat pengantar Anda.
Ketiga, persiapkan diri untuk tahap selanjutnya. Seleksi tidak berhenti pada lamaran. Kalaupun lamaran Anda lolos, wawancara dan tes lain pasti menanti. Pelajari rekam jejak instansi yang Anda lamar. Apa saja program unggulannya? Apa tantangan terbesarnya saat ini? Kesiapan ini akan membuat Anda terlihat lebih serius dan bersemangat. Saya ingat dulu saat mengikuti seleksi magang, saya luangkan waktu untuk membaca semua artikel dan laporan tahunan perusahaan tersebut. Walaupun akhirnya tidak diterima, pewawancaranya memuji inisiatif saya. Itu saja sudah jadi pengalaman berharga.
Menyingkirkan Keraguan, Meraih Peluang
Kabar dari Pemprov DKI ini seharusnya menjadi penyemangat. Tanpa perlu ‘orang dalam’, kesempatan terbuka lebar jika Anda memang siap. Jangan biarkan keraguan menghalangi. Fokus pada peningkatan kualitas diri dan cara Anda mempresentasikan diri. Ingat, setiap lamaran adalah kesempatan untuk unjuk gigi. Bagaimana cara Anda membuat lamaran Anda lebih menonjol di antara ribuan lainnya? Apakah ada trik lain yang pernah Anda gunakan dan berhasil?
Baca juga:





