Kenapa Lamaran Sering ‘Nggak Sampai’ ke HRD?
Jujur saja, nyari kerja itu kadang bikin frustrasi ya. Kita udah mati-matian bikin CV, nulis surat lamaran super panjang, eh, kabar beritanya nggak ada. Ditolak pun nggak, di-ghosting pun iya. Rasanya kayak lempar botol berisi pesan ke laut lepas, berharap ada yang nemu tapi kemungkinan kecil banget. Nah, seringkali masalahnya bukan karena kita nggak berkualitas, tapi karena cara kita ‘memasarkan’ diri itu lho, yang kurang tepat sasaran.
Saya sendiri pernah ngalamin momen kayak gitu. Dulu, saya pikir asal ngirim CV sebanyak-banyaknya, nanti pasti ada satu yang nyantol. Ternyata, salah besar! Ibarat mau jualan sesuatu, kalau nggak tahu target pasarnya siapa dan produknya cocok nggak sama kebutuhan mereka, ya sulit laku. Begitu juga melamar kerja. Perusahaan itu punya ‘kebutuhan’, dan kita harus bisa nunjukin kalau kitalah ‘solusi’ yang mereka cari.
Perhatiin Baik-baik ‘Kode’ di Deskripsi Lowongan
Setiap lowongan kerja itu kayak teka-teki yang punya petunjuk tersembunyi. Coba deh, baca lagi deskripsi lowongan yang bikin kamu tertarik. Ada kata kunci apa saja di sana? Posisi ini butuh orang yang ‘teliti’, ‘kreatif’, ‘punya inisiatif’, atau ‘jago kerjasama tim’? Nah, kata-kata ini bukan sekadar pajangan. Ini adalah ‘sinyal’ yang harus kamu tangkap dan tampilkan di CV serta surat lamaranmu.
Contohnya nih, kalau di deskripsi lowongan tertulis butuh orang yang ‘mampu bekerja di bawah tekanan’ dan ‘fleksibel’, jangan cuma tulis ‘Saya adalah pekerja keras’. Perluas sedikit! Mungkin bisa kamu ceritakan pengalamanmu saat menyelesaikan proyek deadline mepet, atau bagaimana kamu bisa beradaptasi cepat saat ada perubahan mendadak dalam tim. Jadi, tunjukkan, jangan cuma bilang.
CV Bukan Cuma ‘Daftar Riwayat Hidup’, Tapi ‘Brosur Jualan’ Dirimu
Banyak orang masih menganggap CV itu sekadar daftar panjang pengalaman kerja dan pendidikan. Padahal, di tangan yang tepat, CV bisa jadi alat marketing paling ampuh. HRD biasanya punya waktu sangat singkat untuk melihat setiap CV yang masuk. Kalau CV kamu isinya cuma teks panjang tanpa poin menarik, ya siap-siap aja ‘tenggelam’ di tumpukan lamaran lain.
Saya ingat banget dulu waktu pertama kali bikin CV. Semuanya ditulis apa adanya, bahkan sampai hobi saya yang aneh-aneh juga saya masukin. Waktu lihat CV teman yang udah profesional, baru deh saya sadar. CV itu harus ‘ramping’, fokus pada pencapaian, dan gunakan bahasa yang ‘powerful’. Alih-alih bilang ‘Bertanggung jawab atas penjualan’, coba ubah jadi ‘Meningkatkan penjualan sebesar 15% dalam tiga bulan melalui strategi X’. Angka dan hasil itu ‘bicara’ lebih keras.
Networking Tetap Penting, Tapi Gunakan dengan Cerdas
Mendengar kata ‘networking’ mungkin bikin sebagian orang ngeri. Tapi, kalau dipikir-pikir, bukankah kita selalu butuh teman? Nah, dalam dunia kerja, koneksi itu bisa membuka pintu yang mungkin nggak terlihat. Tapi, hati-hati juga. Jangan sampai kita cuma ‘memanfaatkan’ teman. Jalin hubungan yang tulus.
Dulu, saya iseng ikut seminar online tentang industri yang saya minati. Di akhir acara, ada sesi tanya jawab, saya beranikan diri bertanya sesuatu yang cukup spesifik. Ternyata, si pembicaranya adalah seorang manajer di perusahaan impian saya. Setelah acara selesai, saya kirim pesan singkat ke beliau, mengucapkan terima kasih atas ilmunya dan menanyakan sedikit lebih detail soal tren di industri tersebut. Beberapa bulan kemudian, ada lowongan di perusahaannya, dan saya merasa lebih ‘percaya diri’ untuk melamar karena sudah pernah ‘berkenalan’ (meski singkat) dan menunjukkan ketertarikan.
Jangan Lupakan ‘Seni’ Surat Lamaran
Meskipun banyak perusahaan sekarang meminta CV saja, surat lamaran (atau *cover letter*) masih jadi senjata ampuh untuk menunjukkan personalitas dan motivasi kamu yang sebenarnya. Ini kesempatanmu untuk ‘berbicara’ langsung ke HRD, menjelaskan kenapa kamu tertarik pada posisi tersebut dan kenapa kamu adalah kandidat yang cocok.
Hindari surat lamaran yang generik. Tunjukkan bahwa kamu sudah riset tentang perusahaan itu. Sebutkan nilai-nilai perusahaan yang sesuai denganmu, atau bagaimana kamu bisa berkontribusi pada proyek spesifik yang sedang mereka kerjakan. Pesan saya sih, jangan malas menulis surat lamaran. Sedikit usaha ekstra ini bisa bikin beda banget lho.
Nah, gimana menurutmu? Susah nggak sih nyari kerja itu? Menurut saya sih, kuncinya adalah terus belajar dan beradaptasi. Zaman terus berubah, cara orang mencari kerja dan cara perusahaan mencari karyawan juga ikut berubah. Yang penting, jangan pernah berhenti mencoba dan terus perbaiki ‘strategi perang’ kamu. Kalau ada tips lain yang jitu, boleh dong dibagi di kolom komentar!
Baca juga:







