Bukan Cuma Baca Judul, Cari Tahu Dulu ‘Rasa’ Lowongan Ini
Jujur saja, kadang melihat deretan lowongan kerja terbaru tuh rasanya kayak lagi main tebak-tebakan. Ada yang bikin penasaran, ada yang bikin mikir dua kali, bahkan ada yang bikin langsung skip.
Dulu, saya seringkali cuma ngelihat jabatannya, sekilas persyaratannya, terus langsung kirim lamaran. Hasilnya? Sering zonk! Bukan karena saya nggak qualified, tapi karena ‘rasa’ pekerjaannya ternyata nggak sesuai sama ekspektasi saya. Pernah dong ngalamin kerja di tempat yang suasananya super kaku padahal di iklannya dibilang ‘dinamis’? Atau semangat banget daftar jadi ‘kreatif director’ yang ternyata isinya cuma edit foto doang?
Nah, kuncinya adalah jangan terburu-buru membaca dari judulnya saja. Coba selami lebih dalam. Perhatikan kata-kata kunci yang digunakan. Apakah mereka menekankan pada ‘kolaborasi tim’ atau ‘kemandirian’? Apakah lebih banyak menyebutkan ‘target individu’ atau ‘kontribusi sistem’? Ini bisa jadi petunjuk besar tentang budaya kerjanya nanti.
Gali ‘Dalam’= Persyaratan dan Deskripsi Tugas Itu Penting Banget!
Oke, ini bagian yang sering bikin *males* baca. Banyak banget yang menganggap kolom ‘persyaratan’ dan ‘deskripsi tugas’ itu cuma formalitas. Padahal, di sinilah letak secret sauce-nya!
Coba deh, luangkan waktu ekstra. Kalau ada kata-kata ‘familiar dengan’, ‘memiliki pemahaman tentang’, atau ‘tertarik pada’, itu artinya mereka nggak terlalu strict. Tapi kalau pakai kata ‘mahir’, ‘berpengalaman minimal X tahun’, atau ‘wajib menguasai’, nah, di situ kamu harus jujur sama diri sendiri. Jangan sampai kamu ngaku-ngaku bisa Excel tingkat dewa, eh, pas interview ditanya macro, langsung pucat pasi.
Begitu juga dengan deskripsi tugas. Kalau ditulisnya terlalu umum, misalnya ‘membantu departemen pemasaran’, coba pikir lagi. Membantu dalam hal apa? Membuat konten? Mengurus media sosial? Melakukan riset pasar? Kalau nggak jelas, jangan ragu untuk mencari tahu lebih lanjut. Kadang, pas interview itu adalah kesempatan emasmu untuk bertanya lebih detail soal keseharian calon karyawan.
Tips ‘Nakal’ Tapi Ampuh dari Saya
Selain baca teliti, ada beberapa trik yang sering saya pakai biar nggak salah pilih:
- Cek ‘Jejak Digital’ Perusahaan: Gimana, ya, cara mereka berkomunikasi di media sosial? Kliennya siapa aja? Ada nggak berita-berita negatif tentang mereka? Ini bisa kasih gambaran kasar soal reputasi dan mungkin budaya kerja.
- Baca Review Karyawan (dengan Kritis): Situs seperti JobStreet, Glassdoor, atau bahkan LinkedIn kadang punya kolom review dari karyawan atau mantan karyawan. Ambil sisi positifnya, tapi jangan telan mentah-mentah. Ingat, pengalaman orang bisa beda-beda.
- Tanya Teman/Kenalan: Kalau kebetulan punya koneksi yang pernah atau sedang bekerja di sana, wah, ini harta karun! Tanyakan langsung soal budaya kerja, manajemen, dan suasana.
Saya pernah nih, hampir gabung ke sebuah startup yang iklannya keren banget. Tapi kebetulan teman saya ada yang pernah kerja di sana. Dia cerita kalau jam kerjanya nggak jelas, sering banget lembur tanpa dibayar, dan bosnya perfeksionis sampai bikin stres. Langsung deh, saya tarik rem! Padahal secara posisi dan gaji, itu menarik banget.
Jangan Malu Bertanya, Itu Kunci!
Banyak orang takut bertanya pas interview, takut dianggap nggak tahu atau kurang percaya diri. Padahal sebaliknya lho. Pertanyaan yang cerdas dan relevan justru menunjukkan kalau kamu serius, kritis, dan memang punya *concern* soal kecocokan di masa depan.
Coba deh, siapkan minimal tiga pertanyaan. Contohnya: ‘Bagaimana biasanya alur komunikasi antar tim di sini?’, ‘Apa saja tantangan terbesar yang mungkin dihadapi seseorang di posisi ini dalam 6 bulan pertama?’, atau ‘Bagaimana perusahaan mendukung pengembangan karir karyawannya?’. Pertanyaan-pertanyaan ini lebih berbobot daripada sekadar nanya ‘jam kerjanya dari jam berapa sampai jam berapa?’ (yang infonya biasanya sudah ada di lowongan).
Jadi, intinya, melamar kerja itu bukan cuma soal ‘mereka butuh saya’, tapi juga ‘apakah saya butuh mereka?’. Melihat lowongan kerja harus jadi proses ‘taaruf’ yang serius. Semakin kamu teliti di awal, semakin kecil kemungkinan kamu menyesal di kemudian hari. Gimana, sudah siap membedah lowongan kerja incaranmu dengan lebih cerdas?
Baca juga:







