Pernah Ngerasa Loker Itu Kayak Harta Karun yang Susah Banget Ditemukan?
Jujur aja nih, siapa sih yang nggak pernah merasa frustrasi pas lagi butuh kerjaan tapi lihat lowongan kok rasanya nggak ada yang pas. Buka portal loker A, B, C, ujung-ujungnya cuma scroll gambar, baca sekilas, terus tutup lagi. Rasanya kayak lagi belanja online tapi semua barang diskonan udah habis atau nggak ada yang sesuai selera. Nah, kali ini kita nggak akan bahas soal tips bikin CV yang kaku atau surat lamaran yang standar banget. Kita mau ngomongin dari sudut pandang yang sedikit berbeda, soal cerita di balik kenapa loker itu kadang sepi respons dari kita, dan gimana caranya biar kita nggak cuma jadi penonton yang nungguin keajaiban.
Kenapa Sih Lamaran Kita Kadang ‘Ngilang Ditelan Bumi’?
Pernah nggak sih kamu ngirim lamaran lewat email, terus rasanya kayak melempar botol berisi pesan ke tengah laut? Ditunggu seminggu, dua minggu, sebulan… nggak ada kabar. Kadang kita mikir, apa emailnya nyasar? Apa HRD-nya lagi liburan ke Antartika? Atau jangan-jangan, kita salah kirim ke alamat yang salah? Bisa jadi. Tapi, yang lebih sering terjadi adalah, ada celah kecil yang kita lewatkan saat memasukkan lamaran.
Misalnya nih, ada loker yang nulis, ‘Kirimkan CV dan portofolio dalam format PDF, subjek email: Lamaran Marketing Associate – [Nama Anda]’. Nah, ini detail kecil tapi krusial. Kalau kita cuma kirim CV PDF tanpa portofolio, atau malah subjek emailnya “LOKER” doang? Peluang kita untuk dilirik bisa langsung menipis, lho. Kebetulan teman saya pernah cerita, dia pernah gagal di tahap ini karena lupa melampirkan salah satu dokumen yang diminta, padahal kualifikasinya pas banget. Kesalnya bukan main, kan?
Lebih Dari Sekadar ‘Kirim Lamaran’: Membangun Pintu Masuk
Sekarang ini, mencari kerja itu bukan cuma soal ‘ada loker, terus kirim’. Kita perlu sedikit cerdik. Loker yang muncul di portal utama itu seringkali sudah dibanjiri ratusan, bahkan ribuan lamaran. Ibaratnya seperti antrean di konser musik paling hits, kita butuh cara biar kita nggak kejeblos di barisan paling belakang yang nggak mungkin kebagian tiket.
Salah satu cara yang menurut saya cukup efektif adalah memanfaatkan jaringan personal atau bahasa gaulnya ‘networking’. Bukan berarti harus jadi orang yang paling ramah dan kenal semua orang, lho. Cukup manfaatkan teman, kenalan, atau bahkan *follower* di media sosial profesional seperti LinkedIn. Seringkali, ada posisi yang belum dibuka resmi tapi sudah bocor informasinya di lingkaran tertentu. Atau, kalaupun sudah ada loker resminya, informasi dari ‘orang dalam’ (tentu dengan etika ya, bukan nepotisme!) bisa memberi gambaran lebih detail soal budaya kerja atau ekspektasi perusahaan yang mungkin nggak tertulis di deskripsi loker.
‘Ngangkat Kaki’ Dari Zona Nyaman Online
Scroll loker di HP memang paling gampang. Tapi, coba deh sesekali datang langsung ke *career fair* atau *job exhibition* yang diadakan perusahaan besar atau universitas. Kenapa? Di sana, kita bisa ngobrol langsung sama perwakilan HRD atau bahkan calon atasan. Kita bisa nanya lebih detail, nunjukin antusiasme kita secara langsung, dan yang terpenting, kita bisa menitipkan CV kita sendiri. Rasanya beda banget pas kita bisa ngobrol tatap muka, auranya beda.
Pengalaman saya sendiri, pernah pas lagi iseng datang ke *career fair* di sebuah pusat konvensi. Saya cuma niat lihat-lihat sambil nyari kaos gratis. Eh, ternyata di salah satu booth, saya malah ngobrol cukup panjang sama Mas-Mas HRD-nya soal industri kreatif. Nggak lama kemudian, setelah saya pulang dan tetap mencoba apply online sesuai prosedur, ada panggilan interview. Saya yakin, obrolan singkat di *career fair* itu jadi nilai plus yang bikin CV saya lebih diperhatikan.
Tips Tambahan yang Sering Terlupakan
Selain soal teknis pengiriman lamaran dan *networking*, ada hal-hal kecil lain yang bisa jadi pembeda. Pertama, riset mendalam tentang perusahaan. Bukan cuma lihat profil di website, tapi coba cari berita terbaru mereka, proyek apa yang lagi digarap, atau bahkan keluhan *online* (kalaupun ada, jadi bahan renungan kita). Kedua, sesuaikan lamaran dengan culture perusahaan. Kalau perusahaannya *startup* yang kekinian, jangan terlalu kaku. Kalau perusahaannya korporat besar yang formal, ya gunakan bahasa yang sopan dan profesional.
Terakhir, jangan pantang menyerah. Kalau kemarin gagal, bukan berarti besok juga gagal. Anggap saja setiap lamaran yang belum membuahkan hasil itu adalah latihan. Nah, untuk kamu yang lagi berburu loker, gimana nih cerita pengalamannya? Ada tips lain yang jitu banget buat dibagi?
Baca juga:







