Kenalan Sama ‘Jebakan Batman’ Saat Lamar Kerja
Siapa sih yang nggak excited pas lihat ada lowongan kerja yang kayaknya pas banget buat kita? Apalagi kalau lokernya baru banget nongol, rasanya pengen langsung hajar kanan. Tapi, sabar dulu. Dulu saya pernah nih, saking semangatnya lihat loker keren, sampai nggak ngeh kalau syaratnya itu aneh. Misalnya, minta portofolio yang isinya harus pakai font Arial ukuran 12, atau diminta kirim CV dalam format gambar JPG. Aneh kan? Nah, seringkali kita terjebak di situasi serupa karena kurang teliti. Ibaratnya, loker itu kayak ‘jebakan Batman’ yang kelihatannya menggoda, padahal isinya bisa bikin repot.
‘Syarat Sakti’ yang Bikin Curiga
Pernah nggak kamu lihat loker yang syaratnya itu terasa berlebihan atau nggak masuk akal? Misalnya, perusahaan startup yang baru seumur jagung tapi minta pengalaman kerja 5 tahun di bidang yang spesifik banget. Atau, lowongan yang nggak jelas deskripsi pekerjaannya, tapi cuma bilang ‘dibutuhkan orang kreatif dan inovatif’. Jujur saja, saya bingung kalau ketemu yang kayak gini. Kadang, mereka juga minta pelamar membayar biaya administrasi atau mengikuti tes yang biayanya dibebankan ke kandidat. Ini jelas red flag besar. Perusahaan profesional biasanya nggak akan minta uang dari pelamar, apalagi cuma buat ngelamar kerja. Kalaupun ada tes, biasanya itu jadi bagian dari proses seleksi yang mereka tanggung.
Janji Surga yang Menggoda
Selain syarat aneh, jebakan lain datang dari ‘gimmick’ yang dipakai buat menarik pelamar. Kata-kata seperti ‘gaji tak terbatas’, ‘bekerja sambil liburan’, atau ‘lingkungan kerja paling asyik sedunia’ itu memang bikin ngiler. Tapi, coba deh diingat-ingat, apakah ini realistis? Mungkin saja ini cuma taktik marketing dari perusahaan yang sebenarnya punya masalah internal, atau bahkan penipuan berkedok lowongan kerja. Saya pernah punya teman yang tergiur dengan janji ‘kebebasan finansial’ dari sebuah perusahaan investasi. Ternyata, itu adalah skema ponzi. Ngeri kan? Jadi, kalau ada tawaran yang terdengar terlalu bagus untuk jadi kenyataan, sebaiknya kamu mundur teratur sambil menarik napas panjang.
Alur Lamaran yang Ribet dan Tak Jelas
Cara perusahaan mengelola proses rekrutmen juga bisa jadi indikator. Kalau kamu diminta mengirim lamaran ke email pribadi yang nggak profesional (misalnya, [email protected]), atau proses seleksinya berlarut-larut tanpa kejelasan sama sekali, nah, ini patut dicurigai. Mungkin saja perusahaan itu tidak terorganisir dengan baik, atau bahkan tidak serius membuka lowongan. Pernah saya melamar ke satu tempat, sudah beberapa kali wawancara, lalu tiba-tiba email penolakan datang dengan alasan yang ngawur. Padahal, semua tahapan sudah saya lalui dengan baik. Akhirnya saya tahu, ternyata perusahaan itu cuma iseng buka lowongan buat ‘menjaring’ ide dari para kandidat. Menyebalkan, kan?
Pertanyaan untuk Diri Sendiri
Jadi, gimana dong cara biar nggak salah langkah? Simpel saja. Lakukan riset kecil-kecilan tentang perusahaan yang membuka lowongan. Cek website mereka, lihat media sosialnya, cari tahu reputasinya di internet. Kalau ada yang mencurigakan, lebih baik lupakan saja loker itu. Ingat, proses mencari kerja itu adalah hak kamu untuk memilih. Jangan sampai kamu merasa tertekan atau terpaksa menerima tawaran yang nggak sesuai. Kamu berhak dapat pekerjaan yang layak dan perusahaan yang menghargai kamu. Setuju nggak?
Baca juga:






