Dunia Perburuan Kerja yang Makin ‘Kreatif’
Jujur saja, mencari kerja itu kadang melelahkan. Apalagi kalau dihadapkan pada tumpukan informasi lowongan kerja yang seliweran di mana-mana. Dari portal online sampai grup WhatsApp, rasanya seperti menjelajahi hutan belantara. Nah, bukannya mau bikin makin pusing, tapi justru saya mau sedikit berbagi pengalaman nih. Seringkali, iklan lowongan kerja itu kelihatan menarik banget, menjanjikan gaji gede, jenjang karir cemerlang, atau bahkan ‘bonus tak terhingga’. Tapi, kalau kita nggak jeli, bisa-bisa kita malah ‘tertipu’ oleh janji manis di lembaran iklan.
Saya sendiri pernah lho, beberapa tahun lalu, tergoda dengan lowongan yang katanya ‘staff administrasi dengan gaji di atas rata-rata’. Pas interview, ternyata itu semacam skema multi-level marketing (MLM) yang ujung-ujungnya harus rekrut orang baru. Langsung deh saya cabut. Pengalaman itu bikin saya makin sadar, pentingnya membaca ‘kode alam’ di balik setiap tulisan lowongan kerja. Jadi, mari kita intip bareng-bareng, ada ‘sinyal bohong’ apa saja sih yang sering muncul?
1. ‘Gaji Oke Banget, Langsung ‘On Board’!’ – Hati-hati Kalkulasi
Ini nih, yang paling sering bikin mata berbinar-binar. Deskripsi lowongan yang mencantumkan angka gaji yang fantastis, tapi sayangnya, detail mengenai beban kerja, jam lembur, atau bahkan sistem penggajiannya nggak jelas. Kadang, angka ‘oke banget’ itu dipecah-pecah jadi banyak komponen: gaji pokok kecil, tunjangan transportasi sekian, tunjangan makan sekian, dan lain-lain. Alih-alih membingungkan, banyak perusahaan yang jeli justru mencantumkan rentang gaji yang realistis atau minimal menyebutkan komponen utamanya.
Kalau ada lowongan yang terlihat ‘terlalu bagus untuk jadi kenyataan’, coba deh dicek lagi. Apa tugasnya memang sepadan dengan yang ditawarkan? Apa ada pengalaman serupa dari orang lain yang pernah melamar ke perusahaan itu? Jangan sampai kamu tergiur gaji besar tapi ternyata pekerjaannya membuatmu stres tujuh keliling dan pulang malam terus-menerus tanpa ada kompensasi yang layak.
2. ‘Dibutuhkan Segera! Tanpa Pengalaman Bisa Diterima’ – Benarkah Semudah Itu?
Memang sih, nggak semua posisi butuh pengalaman bertahun-tahun. Ada banyak banget peran awal yang cocok untuk fresh graduate. Tapi, iklan yang terlalu santai soal kualifikasi, seolah semua orang bisa masuk tanpa kualifikasi spesifik, perlu diwaspadai. Terkadang, ini bisa jadi sinyal bahwa posisi tersebut memang memiliki tingkat *turnover* yang tinggi atau memang bukan posisi yang benar-benar strategis di perusahaan.
Pernahkah kamu melihat lowongan yang sangat umum, seperti ‘staf’ atau ‘karyawan serbaguna’, tanpa menjelaskan detail peran? Ini pentingnya membaca deskripsi tugas. Kalau hanya tertulis ‘membantu operasional’, wah, bisa jadi kamu akan disuruh macam-macam. Coba deh, fokus cari lowongan yang spesifik pada bidang yang kamu minati, meskipun kamu belum punya pengalaman. Setidaknya, kamu tahu apa yang akan kamu kerjakan nanti.
3. ‘Perusahaan Startup Berkembang Pesat’ – Cek Dulu Sumber Pendanaannya
Ah, *startup*! Kata ini memang bikin geliat. Banyak anak muda tertarik bergabung karena dianggap dinamis, punya budaya kerja keren, dan kesempatan untuk berkembang cepat. Tapi, realitanya, banyak *startup* yang masih berjuang mencari model bisnis yang stabil. Ada yang masih menggantungkan dana dari investor, yang artinya kestabilan finansial perusahaan itu masih dipertanyakan.
Kalau kamu melamar ke sebuah *startup*, coba deh cari tahu sedikit soal pendanaannya. Apakah sudah dapat pendanaan seri berapa? Ada berita tentang investornya? Ini bukan berarti semua *startup* buruk lho ya, tapi setidaknya kamu punya gambaran. Saya punya teman yang pernah bertahan di *startup* yang pendanaannya habis terus harus berjuang keras menutupi gaji karyawan. Agak ngeri juga ya dengarnya.
4. ‘Jaringan Mitra Luas’ – Ini Ajang Cari Agen atau Karyawan?
Kadang, lowongan kerja dibungkus dengan bahasa yang terdengar mulia, seperti ‘membangun jaringan’, ‘menjadi bagian dari komunitas’, atau ‘kesempatan bertemu banyak orang’. Kalau kamu bertemu iklan dengan nuansa seperti ini, coba perhatikan baik-baik. Ada kemungkinan ini bukan pekerjaan kantoran murni, melainkan profesi yang lebih mengarah ke agen penjualan, *direct selling*, atau bahkan skema ponzi berkedok lowongan kerja.
Fokus utamanya di sini adalah apakah penghasilanmu didapat dari hasil penjualan produk/jasa atau dari merekrut anggota baru. Kalau mayoritas penghasilanmu datang dari rekrutmen, nah, itu patut diwaspadai. Intinya, jangan sampai kamu salah masuk ‘perangkap’ yang membuatmu merasa terus bergerak maju padahal sebenarnya tidak ke mana-mana.
5. ‘Butuh Tim Solid yang Loyal’ – Lebih ke Arah Tuntutan Awal?
Frasa ‘tim solid’ dan ‘loyalitas’ memang fundamental dalam dunia kerja. Siapa sih yang nggak mau punya rekan kerja yang kompak dan perusahaan yang stabil? Namun, ketika frasa ini muncul di awal perkenalan lowongan kerja, patut dicurigai. Kadang, ini bisa jadi kode bahwa perusahaan tersebut memiliki masalah dengan *turnover* karyawan yang tinggi, sehingga mereka sangat mendambakan orang yang ‘betah’ di sana.
Atau, bisa jadi ini adalah cara halus untuk menetapkan ekspektasi yang sangat tinggi terkait jam kerja atau dedikasi. Membangun loyalitas itu butuh waktu, proses, dan *feedback* yang baik dari perusahaan. Kalau dari awal sudah dituntut ‘loyal’, tanpa menawarkan benefit yang sepadan atau lingkungan kerja yang positif, rasanya agak nggak adil ya? Menurut saya, perusahaan yang baik justru tidak perlu terlalu ‘berteriak’ soal loyalitas, karena itu akan tumbuh dengan sendirinya jika karyawannya merasa dihargai.
Jadi, Gimana Dong?
Mencari kerja memang penuh lika-liku. Tapi, dengan sedikit kejelian dan dibekali informasi yang cukup, kita bisa membedakan mana lowongan yang benar-benar potensial dan mana yang sekadar ‘angin lalu’. Jangan takut untuk bertanya lebih detail saat *interview* atau bahkan melakukan riset kecil-kecilan soal perusahaan. Kalau menurutmu, ada ‘sinyal bohong’ lain di iklan lowongan kerja yang perlu kita waspadai? Bagikan di kolom komentar yuk!
Baca juga:







