Pengalaman Saya Pertama Kali Melamar
Tiga tahun lalu, saya ada di posisi kamu sekarang. Baru lulus, gelar di tangan, tapi dompet mulai menipis dan notifikasi email cuma berisi tagihan atau newsletter tidak penting. Rasanya campur aduk. Ada rasa antusias, tapi jauh lebih banyak cemasnya. Saya ingat betul bagaimana saya mengirim puluhan CV ke perusahaan besar tanpa sekalipun mendapat balasan. Ternyata, masalahnya bukan di gelar saya, tapi cara saya menjual diri.
Banyak orang bilang ‘ya tinggal kirim saja’. Padahal, prosesnya jauh lebih rumit daripada sekadar mengunggah dokumen di portal loker. Kamu harus tahu taktiknya agar profilmu tidak sekadar jadi tumpukan data di folder unduhan HRD.
Jangan Andalkan Satu Pintu Saja
Dulu, saya terlalu bergantung pada satu situs pencari kerja populer. Ternyata, itu kesalahan fatal. Jutaan orang melakukan hal yang sama. Persaingannya gila-gilaan. Menurut saya, kunci utamanya adalah diversifikasi. Coba cek LinkedIn, grup komunitas profesi di Telegram, atau bahkan situs web perusahaan yang benar-benar kamu incar secara langsung. Kadang, posisi paling menarik justru tidak diiklankan di situs portal besar.
Ubah CV Kamu Menjadi Magnet
Berhentilah menggunakan satu CV yang sama untuk semua posisi. Itu sangat membosankan dan jujur saja, kelihatan banget kalau kamu malas. Sesuaikan isi CV dengan kualifikasi yang diminta di lowongan. Kalau perusahaan mencari orang yang mahir analisis data, tonjolkan pengalaman saat kamu mengolah data di skripsi atau magang. Jangan tulis semua hal yang pernah kamu lakukan.
- Gunakan bahasa yang to-the-point dan hindari kata sifat yang tidak perlu.
- Pastikan format file PDF agar tata letaknya tidak berantakan saat dibuka di perangkat lain.
- Sertakan link portofolio yang relevan dengan posisi yang dilamar.
Koneksi Itu Segalanya
Pernah dengar istilah hidden job market? Banyak lowongan sebenarnya sudah terisi sebelum sempat dipajang di portal loker. Bagaimana cara mereka dapat posisinya? Lewat rekomendasi orang dalam. Ini bukan tentang ‘orang dalam’ yang negatif, melainkan tentang membangun relasi. Jangan ragu menyapa senior di kampus atau teman lama lewat LinkedIn. Bertanyalah dengan sopan, minta masukan, bukan langsung minta disalurkan kerja. Hubungan yang baik sering kali membuka pintu yang tidak bisa dibuka oleh CV secanggih apa pun.
Menjaga Kewarasan Saat Menanti Panggilan
Menunggu itu melelahkan. Kadang saya merasa gagal hanya karena tidak ada panggilan masuk dalam seminggu. Padahal, HRD punya tumpukan ratusan lamaran yang harus dipilah. Jangan ambil hati kalau ditolak atau tidak direspons. Fokuslah pada pengembangan diri. Sambil menunggu, ambil kursus singkat atau pelajari tools baru yang lagi dicari di industri pilihanmu. Dengan begitu, kamu merasa produktif meski belum bekerja secara formal.
Kalau ditanya apa penyesalan terbesar saya, mungkin jawabannya adalah terlalu kaku mengikuti aturan lamaran yang umum. Seharusnya saya lebih berani menunjukkan karakter diri sejak awal. Bagaimana dengan kamu sendiri? Apa bagian paling sulit yang kamu rasakan saat mulai berburu pekerjaan saat ini?
Baca juga:





